Pages

Bruno Mars - Just The Way You Are Lyrics

Bruno Mars - Just The Way You Are Lyrics

Oh her eyes, her eyes
Make the stars look like they're not shining
Her hair, her hair
Falls perfectly without her trying
She's so beautiful
And I tell her every day
Yeah I know, I know
When I compliment her
She wont believe me
And its so, its so
Sad to think she don't see what I see
But every time she asks me do I look okay
I say
When I see your face
There's not a thing that I would change
Cause you're amazing
Just the way you are
And when you smile,
The whole world stops and stares for awhile
Cause girl you're amazing
Just the way you are
Her nails, her nails
I could kiss them all day if she'd let me
Her laugh, her laugh
She hates but I think its so sexy
She's so beautiful
And I tell her every day
Oh you know, you know, you know
Id never ask you to change
If perfect is what you're searching for
Then just stay the same
So don't even bother asking
If you look okay
You know I say
When I see your face
There's not a thing that I would change
Cause you're amazing
Just the way you are
And when you smile,
The whole world stops and stares for awhile
Cause girl you're amazing
Just the way you are
The way you are
The way you are
Girl you're amazing
Just the way you are
When I see your face
There's not a thing that I would change
Cause you're amazing
Just the way you are
And when you smile,
The whole world stops and stares for awhile
Cause girl you're amazing
Just the way you are

Wedding dress - taeyang

Wedding dress - taeyang

H
ari ini 18 Mei. Tepat di hari ulang tahunku. Dan sekarang aku sudah rapi dengan setelan tanpa jas (kemeja putih dengan celana, vest dan dasi hitam) yang melekat pas di badanku, juga sepatu hitam mengkilat yang pas dengan setelanku. Aku berkaca sebentar. Tidak ku sadari sebelumnya bahwa sebenarnya aku ini tampan. Haha..bukannya ingin sombong, tapi memang benar kan?
Tapi seharusnya hari ini aku tidak bisa bercanda. Aku tidak bisa bersenang-senang meski hari ini ulang tahunku. Dan aku berdandan serapi ini bukan untuk acaraku. Tapi untuk acara temanku. Tepatnya, aku akan datang ke pernikahan mereka.
Terserah kalian mau bilang aku ini teman yang tidak baik atau semacamnya, tapi jujur, aku tidak suka dengan pernikahan mereka. Andai saja saat itu aku bisa lebih cepat dari Sang Wook, yang menikah hari ini pasti adalah aku. Ya sudahlah, lagi pula aku tidak bisa membalikkan waktu seperti membalikkan jam pasir yang ada di atas mejaku itu.
Jam pasir..aku lihat di sebelahnya, ada sebuah kotak warna putih. Aku ambil kotak itu dan membukanya, sebuah cincin dengan satu mata berlian di atasnya berada di sana. Aku mengambilnya, memandangi benda itu sebentar, sesaat hatiku sakit dan perasaanku tercabik. Namun aku tidak bisa berlama-lama, Sang Wook dan Seung Hee pasti sudah menungguku.
Aku kantongi cincin itu tanpa kotaknya. Lalu aku ambil buku musikku yang sudah aku siapkan tadi dan segera pergi.
***

Tempat pernikahannya sudah ramai, meski acara baru akan di mulai setengah jam lagi. Tanpa berlama-lama aku masuk ke dalam gedung, aku ingin menemui calon pengantin terlebih dahulu.
Aku lihat ruang rias pengantin wanita terbuka, dan Seung Hee sedang berkaca di sana dengan gaun putihnya. Ia tampak bahagia. Aku tersenyum, aku juga jadi ikut bahagia melihatnya. Sesaat, perasaan sakit hatiku menghilang.
“Yong Bae!” serunya, ia melihatku dari cermin. Aku tersenyum padanya. Ia lalu berbalik dan keluar dari ruang riasnya. “Kau datang!”
“Tentu saja!” jawabku masih dengan senyumku. Entah kenapa aku tidak bisa menunjukkan rasa sedihku di hadapannya. “Gaunmu indah sekali! Kau tampak cantik memakai ini!”
Gomaweoyo!” katanya. Ia terlihat benar-benar senang, sampai tidak bisa berkata-kata. Ia hanya tersenyum, kemudian tertawa-tawa kecil di hadapanku.
“Oi..Yong Bae! Tidak seharusnya kau menganggu pengantinku!” kata seseorang tiba-tiba. Aku menoleh, Sang Wook berdiri di sana sambil tersenyum nakal. Sesaat, hatiku langsung hancur melihatnya. Tapi aku tidak mau menghancurkan saat bahagia dari kedua sahabatku. Aku harus tegar. Demi mereka, dan aku.
“Hai!” kataku membalasnya. Kami bertepuk, kemudian bersalaman. “Selamat ya! Akhirnya kalian menikah!”
Gomaweo!” katanya. “Jangan lupa, nyanyikan lagu yang indah untuk kami nanti! Tolong jangan rusak acara kami! Hahaha..aku bercanda!”
“Tenang saja! Aku tidak akan mengecewakanmu!” kataku. Ia tersenyum.
“Seung Hee, kita harus segera bersiap!” kata Sang Wook pada gadis dengan gaun putih di hadapanku itu. Seung Hee mengangguk. Sang Wook lali menggandengnya dan membawanya pergi dari hadapanku. “Sampai jumpa Yong Bae! Buat acara kami menyenangkan dengan suaramu!”
Aku hanya menjawab dengan senyum dan anggukan kecil, kemudian berbalik pergi. Aku harus segera mempersiapkan diri. Mempersiapkan diri untuk penampilanku. Tapi yang lebih penting lagi mempersiapkan diri untuk melihat gadis yang aku cintai di nikahi oleh orang lain.
Hah..poor you, Dong Yong Bae..
***

“Tebak siapa aku?” goda seseorang setelah menutup mataku. Tangan lentik dan lembut ini, aku tahu siapa dia. Tapi aku berpura-pura tidak tahu dan mencoba menerka saja.
“Nenek ya?” kataku asal.
“Apa maksudmu nenek?” protesnya seraya melepaskan tangannya dan mendorong bahuku ke depan dengan kesal. Aku terkekeh.
“Aku sudah tahu itu kau! Dan aku juga tahu cara tercepat membuatmu melepaskan tanganmu!” jawabku. Ia lalu duduk di sebelahku. “Mana Sang Wook?”
“Dia akan datang sebentar lagi!” jawabnya. “Kau tidak..menari?” tanya Seung Hee sambil menggerak-gerakkan badannya. Aku tertawa melihatnya. Dia wanita, tapi badannya kaku sekali.
“Hari ini latihan libur!” jawabku. “Ah, tapi aku mau menunjukkan sesuatu!”
Aku mengeluarkan ponselku, lalu memperlihatkan rekaman video. Video dance ku sambil menyanyikan lagu yang baru aku buat. Seung Hee mendengarkan suaranya melalui headset.
Kalau melihat wajahnya saat ini, makin menguatkan hatiku. Aku jadi semakin tahu bahwa aku menyukainya.
Aku, Baek Seung Hee dan Ryu Sang Wook, adalah teman sejak kami berada di sekolah dasar. Dan Seung Hee lah yang membuat kami bertiga bersahabat sampai sekarang. Ia yang meminta berkenalan dulu denganku, kemudian dia mengenalkanku pada Sang Wook yang pendiam sekali saat itu. Dan sampai sekarang, kami selalu bersama-sama. Setiap hari kami menyempatkan diri untuk berkumpul bertiga. Sampai aku merasa, kami bertiga adalah saudara.
Namun seiring berjalannya waktu, aku merasakan sesuatu yang lain jika sedang bersama Seung Hee. Aku menyayanginya, tapi tidak seperti sebelumnya. Lebih tepatnya, aku jatuh cinta padanya. Dan sekarang, aku makin menyadarinya, perasaanku ini tidak main-main dan bukan hanya perasaan yang bersifat sementara.
“Keren sekali!” seruan Seung Hee membuyarkan lamunanku tentang dirinya. Ia lalu memandangku, aku hanya bisa tersenyum menanggapinya. “Kau berbakat, Yong Bae! Kenapa kau tidak ikut audisi bakat saja?”
“Mungkinkah aku akan sukses?” tanyaku padanya. Seung Hee mengangguk mantap.
“Kau pasti sukses! Kau berbakat sekali!” katanya. Aku tersenyum, lalu mengacak rambutnya pelan.
Beberapa detik kemudian Sang Wook datang sambil memutar-mutar kunci mobil di telunjuk kanannya. “Aku melewatkan sesuatu?” katanya pada kami.
“Banyak sekali!” jawab Seung Hee menggoda.
Sang Wook terkekeh. Dan kami melanjutkan obrolan sampai larut.

“Na..nanana..na..” aku berdendang sedikit sambil membaca buku musikku saat sedang istirahat latihan dance. Sepertinya yang lain memperhatikanku. Aku menoleh ke arah mereka.
“Akhir-akhir ini kau keliahatan bahagia sekali?” tanya Seung Hyun, salah satu teman berlatih dance ku. Aku hanya tersenyum. “Baek Seung Hee-ssi?”
“Bagaimana kau bisa tahu?” tanyaku heran.
Tiba-tiba ia menunjukkan ponsel warna putih, dan di layarnya terlihat e-mail dari Seung Hee. Yang lain tertawa melihatnya. Aku segera merebut ponsel itu dan membacanya. Aku tidak sadar kalau sejak tadi Seung Hee mengirimkan e-mail padaku. Bahkan aku tidak mendengar deringnya.
“Seung Hee-ssi itu yang sering kau ceritakan?” tanya Ji Yong, temanku yang lain lagi. Aku mengangguk pelan sambil tersenyum kecil.
“Cepat nyatakan saja! Dari pada nanti keduluan orang, hyung!” kata Seung Ri seraya mendekatiku dan menepuk bahuku.
“Kau anak kecil diam saja!” kataku asal. Terus terang, saat itu aku malu sekali.
“Tapi Seung Ri benar, hyung! Kalau tidak cepat kau nyatakan, bisa-bisa keduluan orang lain!” bela Dae Sung. Yang lain mengangguk setuju. Tapi, memang ada benarnya juga sih. “Yong Bae hyung bilang kan gadis itu cantik! Pasti tidak hanya hyung yang suka padanya!”
“Begitu ya?” tanyaku ragu. Tapi mereka mengangguk.
“Fighting!” tambah Seung Ri sambil mengepalkan tangannya. Aku mengangguk sambil tersenyum dan memandang layar ponselku. Aku akan membalas e-mail Seung Hee, dan membuat janji dengannya untuk bertemu.


Aku kayuh sepedaku menuju tempat dimana Seung Hee janjian denganku. Kami janjian bertemu tak jauh dari tempat latihanku.
Aku melihatnya, Seung Hee sudah ada di sana. Ia juga melihatku, kemudian melambaikan tangan padaku. Aku membalasnya, kemudian mempercepat laju sepedaku ke arahnya.
Aku jatuhkan sepedaku asal, kemudian berlari ke arah Seung Hee dan duduk di sebelahnya. “Baru pulang menari?” tanya Seung Hee sambil menggerak-gerakkan badannya dengan kaku, kemudian tersenyum lebar.
Neh!” jawabku. Ia tertawa. “Kenapa tertawa?”
“Tidak!” jawabnya. “Ada apa kau menyuruhku kemari? Sang Wook tidak ikut?”
Aku menggeleng. Kami terdiam sejenak. Aku tidak tahu harus basa-basi apa dengannya kali ini. Sepertinya aku memang tipe orang yang tidak bisa basa-basi. Aku ingin langsung menyatakannya, tapi mulutku ini seperti memiliki kunci otomatis yang akan menutup jika aku berniat menyatakan perasaanku.
“Kenapa diam?” tanya Seung Hee. “Sebenarnya ada apa sih? Katakan saja! Sedang ada masalah?”
“Tidak!” jawabku cepat. “Aku hanya..sulit untuk mengatakannya!” aku jadi bingung sendiri. Dan sekarang aku juga tidak bisa memandangnya seperti biasanya. Sungguh berat.
“Sudah katakana saja!” kata Seung Hee dengan senyumnya. Dan itu makin membuatku kehabisan kata-kata. Aku grogi.
“Mengatakan apa?” seseorang tiba-tiba menyerobot pembicaraan kami. Sang Wook, tiba-tiba ia ada di belakang kami sambil tersenyum lebar. Ia lalu duduk di sebelah Seung Hee kemudian merangkulnya. “Kenapa kalian tidak mengabariku? Aku sedang bosan di rumah tau!”
Aku hanya tersenyum kecil. Aku jadi merasa, Sang Wook selalu merusak momen menyenangkanku bersama Seung Hee.
“Ah, kalau begitu, aku pulang dulu!” kataku seraya berdiri dan membersihkan celanaku yang terkena tanah dan rumput.
“Kenapa cepat sekali?” Tanya Sang Wook. “Bahkan kita belum bersenang-senang!”
“Aku ada sedikit urusan!” jawabku. “Sudah ya! Aku pulang dulu! Lain kali kita main lagi! Dah!”
Dan aku segera mengayuh sepedaku menjauhi mereka.
“Kenapa dia?” Tanya Sang Wook. Seung Hee menggeleng pelan.

Saengil chukka hamnida!!” seruku. Seung Hee tampak senang sekali, ia mengamati kue coklat kecil yang aku bawa. Ia tersenyum lebar, kemudian memandangku.
Gomaweoyo!” katanya. Aku mengangguk kecil.
“Maaf..tapi aku hanya bisa memberimu ini!” kataku. Dia tersenyum lebar.
“Kau ini bilang apa? Ini manis sekali! Dan hanya dengan tahu kalau sahabatku mengingat hari ulang tahunku saja aku sudah senang sekali!” katanya menenangkan hatiku. “Sekali lagi..gomaweoyo!”
Cheonmaneyo!” jawabku sambil tersenyum.
Kami lalu terdiam sebentar. Jantungku berdegup semakin kencang, karena aku berniat akan mengatakan semuanya sekarang. “Seung Hee!” panggilku padaya, ia lalu memandangku sambil tersenyum. Seperti biasanya.
“Ada apa?” tanya Seung Hee.
“Begini..” kataku memulai. Entah kenapa, mulutku seperti tidak mau mengucapkan apapun. Kunci otomatisnya selalu bekerja di saat penting seperti ini..sial! “Seung Hee..sebenarnya..”
nan neoreul saranghae.. i sesangeun neo ppuniya.. sorichyeo bureujiman jeo daedap eomneun..noeulman burkge taneunde..’ ponsel Seung Hee berdering keras. Ia segera mengambilnya dari dalam tas.
Mian!” katanya padaku, kemudian segera menerimanya. “Yeoboseo?”
Ia terdiam sebentar, kemudian tersenyum. “Hmmh..aku sedang di cafe, bersama Yong Bae! Kau kesini saja!” katanya kemudian. “Iya, kami tunggu! Hmm..cepat ya!”
Ia lalu menutup pembicaraannya.
“Siapa?” tanyaku sambil mengekerutkan kening.
“Sang Wook! Dia akan menyusul kita sebentar lagi!” jawabnya. Ternyata benar apa yang aku perkirakan. Sebentar lagi Sang Wook pasti akan datang. Seperti sudah takdir, ia akan selalu muncul pada saat yang tidak tepat. “Oh ya, apa yang ingin kau bicarakan tadi?”
“Ah..maaf..aku lupa..” kataku bohong. Aku sudah tidak ada mood untuk mengatakannya lagi! Tapi untunglah, sepertinya ia tidak terlalu penasaran.
***

“Nak! Sstt..nak! Musiknya!” bisik seorang bapak-bapak di sebelahku. Aku terkaget, kemudian melihat ke arahnya. Ia menunjuk ke arah pintu gedung yang telah terbuka. Aku baru sadar, aku harus memainkan pianonya untuk mengantar pengantin wanita sampai ke altar.
Aku mulai memainkannya, dan Seung Hee juga mulai berjalan menuju altar di mana Sang Wook berada, dengan di antar oleh ayahnya. Semuanya tampak begitu bahagia, dan mungkin hanya aku di sini yang begitu tersiksa melihat semua ini. Tapi aku harus menahannya, karena mereka temanku.
Pengantin wanita pun sampai di altar, permainan pianoku berhenti, dan upacara pernikahan pun di mulai. Sepertinya aku akan gila melihat semua ini. Aku tidak bisa melihat mereka, tapi aku harus. Seperti makan buah simalakama. Aku terjebak dalam masalahku sendiri, masalah yang aku buat karena aku yang terlalu pengecut.
***

“Kau sudah menyatakannya hyung?” tanya Dae Sung sambil mengeluarkan tas-nya dari dalam loker. Aku menggeleng pelan. “Hah..ayolah..kau benar-benar mencintainya kan? Katakan saja!”
“Tapi..entah kenapa, selalu saja ada yang membuatku urung untuk mengatakannya!” kilahku jujur. Dae Sung tampak berpikir.
“Cincin!” kata Dae Sung kemudian. Aku mengernyitkan keningku. Ia lalu mengangguk mantap. “Iya, cincin! Langsung pakaikan cincin padanya, ia pasti akan segera tahu apa maksud hyung padanya! Tidak perlu banyak basa-basi kan!”
“Ahh..kau pintar sekali!” kataku. Ia tersenyum lebar.
“Aku sering melihatnya dalam drama!” jawabnya. “Aku yakin, pasti akan berhasil! Berjuanglah!”
“Hmmh..gomaweo!”

Cincin emas putih, dengan satu mata berlian di tengahnya. Cincin yang baru saja aku beli. Dan hari ini, aku harus berhasil menyatakannya, dengan cincin ini.
Aku menekan nomor ponsel Seung Hee dan segera menelponnya. Aku tunggu sebentar. “Yeoboseo?” sapanya dari seberang.
“Kau dimana?”



Mobilku berhenti di depan sebuah bar. Aku bergegas masuk untuk mencari seseorang. Aku menemukannya. Seorang gadis dengan baju merah. Aku mendatanginya, kemudian menariknya menjauhi kerumunan.
“Yong Bae! Ada apa?” tanya Seung Hee, gadis yang tadi aku tarik.
Aku lepaskan tangannya setelah sampai di tempat yang cukup sepi. Sepertinya ia kesakitan, memang cengkramanku tadi agak sedikit kencang. “Ada apa?” katanya lagi. Aku memandangnya sejenak, kemudian merogoh saku celanaku.
Namun tepat, sebelum aku menunjukkan apa yang aku bawa pada Seung Hee, laki-laki itu, Sang Wook, entah bagaimana ia tahu kami berada di sini. Aku segera memasukkan lagi cincin itu ke dalam kantong celana ku.
“Hei, kalian sedang apa?” tanya Sang Wook dengan senyumnya yang khas. Aku menggeleng sambil tersenyum juga.
“Tidak!” jawabku.
Ia lalu mengalihkan pandangan ke arah Seung Hee. Dan apa yang aku takutkan terjadi.
Sang Wook mengeluarkan sebuah cincin emas putih polos dan langsung memakaikannya pada jari manis Seung Hee. “Maukah kau menikah denganku?” katanya cepat.
Sesaat hatiku remuk. Aku tidak tahu bagaimana menghadapi situasi ini. Aku hanya terdiam, memandangi mereka yang kini sedang tersenyum bahagia. Dan sesaat kemudian, Seung Hee menganggukkan kepala sambil tersenyum lebar. Ia menerima lamaran Sang Wook. Di depanku!
Dan mereka segera pergi menjauh untuk memberitahukan pada teman-teman mereka yang menunggu di meja bar. Aku terdiam, aku tidak bisa berpikir lagi. Semuanya sudah berakhir di sini. Aku tertunduk, dan menyesal sesaat.

Aku memandangi buku musik yang bertengger di atas piano itu. Not balok yang baru saja aku tulis untuk lagu baruku.
Kemarin, Seung Hee menelpon dan memintaku untuk menyanyi di acara pernikahannya. Aku bingung harus menyanyikan lagu apa, dan kemudian aku memutuskan untuk membuat lagu baru. Tapi tampaknya, lagu baruku ini bisa menghancurkan acara pernikahan mereka.
Aku bingung. Aku ingin menangis. Tapi, aku membulatkan tekadku. Aku bangun, menegakkan dudukku, kemudian mulai memainkan tuts-tuts piano itu sesuai dengan not yang baru aku tulis di buku itu. Entah bagaimana jadinya nanti, semoga saja acara mereka tidak hancur hanya gara-gara lagu ini.
***

Sesuai permintaan Seung Hee, setelah upacara pernikahan selesai, aku akan menyanyikan satu buah lagu untuk mereka, dan aku segera memulainya.
Wedding dress, aku ciptakan sepenuh hati untuk Seung Hee. Dan aku menyanyikannya dengan penuh perasaan. Sambil memainkan tuts-tuts piano ini, aku terus bernyanyi, sambil memperhatikan Seung Hee dan Sang Wook yang kini sedang bergandengan tangan di altar. Mereka tampak bahagia.
Namun sesaat, Sang Wook tampak tidak senang. Sepertinya ia sadar, setelah mendengar lagu yang aku nyanyikan ini. Bahwa aku juga mencintai wanita yang baru ia nikahi itu. Senyum yang semula menghiasi wajahnya, makin lama meredup. Tapi ia seperti tidak mau mempermasalahkannya. Ia kembali tersenyum, untuk istri barunya, dan untuk semua yang ada di ruangan ini. Dan sepertinya untukku juga.
***

Seusai acara, kedua mempelai keluar dari gedung dan bertemu teman-teman mereka. Namun aku hanya bisa mengamati dari kejauhan. Terlalu sakit untuk berkumpul dengan keduanya seperti biasa. Tapi, Mereka tampak bahagia, memamerkan status baru mereka. Dan memamerkan cincin mereka.
Ah..ya, cincin.
Aku mengeluarkannya dari saku celanaku. Cincin itu, yang dulu ingin aku berikan pada Seung Hee. Aku mengamatinya sebentar, kemudian aku menurunkan tanganku yang terasa lemas, dan dengan sengaja melepas cincin itu ke tanah. Kemudian pergi menjauhi mereka, setelah tersenyum. Menertawakan pahitnya kisahku, demi kedua sahabatku. Hmh..demi Baek Seung Hee.


***

Love Story

Love Story

11.11.2011 11:11 a.m

S
eseorang melambaikan tangan kepadaku dari kejauhan . Tak lama kemudian dia mendekatiku . "Maaf , kau sudah menunggu lama ya Reno ?"tanyanya sambil mengulurkan tangan . "Ah , tidak . Bagaimana perjalananmu , menyenangkan tidak ?"balasku sambil menjabat tangan'nya . "Bisa dikatakan menyenangkan , tapi aku terus mengingat dan membayangkan apa yang akan terjadi di hari besar ini nanti . Ya , hari pertunanganku dengan Cesa " jawab Dimas sambil tersenyum .

Ah , sesaat hatiku terasa remuk , mengingat orang yang kucintai akan bertunangan dengan orang lain . Aku memaki diriku sendiri , andaikata waktu itu aku segera mengungkapkan perasaanku pada Cesa , mungkin semua ini tidak akan terjadi . Ah , sudahlah . Tidak baik jga mengingat yang sudah berlalu .

***

19.07.2011 02.15 p.m

"Kau ingin menonton apa Cesa ?" tanyaku pada Cesa setiba di depan kasir bioskop . "Hmmmm , sebenarnya aku ingin menonton Harry Potter 7 , kau setuju tidak Reno?" tanya Cesa . "Ya , terserah saja . Sepertinya juga film itu cukup menarik" balasku .

Keluar dari bioskop , Cesa meminta mencari makan . Akhirnya kami memutuskan untuk makan di Foodcourt . Setelah memesan makanan , kami lantas memilih tempat duduk . Ya , ini saat yang tepat , pikirku . Baik , sekarang aku akan menyatakan perasaanku padanya . " Cesa , boleh aku menanyakan sesuatu ?"tanyaku sambil menatap Cesa dengan penuh harap . "Ya , silahkan saja . Apa saja akan ku jawab" balasnya sambil tersenyum . "Ah , baik . Aku ........" sesaat ucapanku berhenti mendengar nada dering hp Cesa berbunyi . "Sebentar ya , aku mau mengangkat telepon dari temanku dari Jakarta , Dimas namanya " ucap Cesa sambil mengangkat hp'nya .

Sesaat waktu mengangkat telepon , Cesa seperti terlihat memikirkan sesuatu dengan keras . Tak lama setelah itu , dia membalas orang yang bernama Dimas itu diseberang telepon . "Ya , aku mau" ucap Cesa sambil tersenyum .

Ah , ada apa ? Apa yang dimaksud Cesa kepada Dimas dengan kata "mau" ?  Apa Dimas menawarkan pekerjaan kepada Cesa ? Belakangan ini aku juga tahu , kalau Nira mengundurkan diri dari pekerjaanya sebagai pegawai Bank .

Setelah mereka telepon cukup lama , Cesa menaruh hp'nya lagi ke dalam tas . "Kali ini aku yang mentraktir makanannya" ucap Cesa tiba - tiba kepadaku sambil tersenyum . "Eh , ada apa ? kau dapat pekerjaan lagi ?" tanyaku bingung . "Bukan , Reno . Barusan Dimas bukan menawarkan pekerjaan . Tapi , dia menembakku , dan sekarang kami sepesang kekasih" kata Cesa sambil tersenyum .

Eh , apa ? mereka berpacaran ? Ah , tidak mungkin ! Baru saja aku mau menyatakan perasaanku pada Cesa , tetapi . . . eh , APA ?

"Oh ....." ucapku . Aku tak tau harus berkata apa lagi . Sesaat semua seperti hancur berantakan . Dan hanya itu yang bisa kuucapkan sekarang . Tubuhku terasa lemas . Entah apa yang harus kulakukan sekarang ini ..

***

Pesta malam ini di kediaman rumah Cesa terasa sangat meriah dan ramai , banyak hadirin yang diundang hadir beserta dengan keluarganya , bahkan bisa dibilang ini seperti acara pernikahan , karena suasana yang begitu ramai . Para tamu mengucapkan selamat kepada Dimas dan Cesa , dan sekarang giliranku harus mengucapkan selamat kepada mereka .
"Selamat ya , akhirnya kalian bisa bertunangan "ucapku pada mereka berdua dengan memaksakan senyum yang terasa pahit bagiku . "Ahh ya , terima kasih banyak Reno . Tanpamu jga , tak mungkin kami bisa menggelar acara pertunangan ini dengan meriah . Kau banyak membantu kami" ucap Dimas membalas ucapanku , dan menjabat tanganku . "Ah tidak , aku hanya membantu sedikit kok , haha . Sudah dulu , aku mau menikmati hidangan dulu" ucapku . "Hahaha , silahkan Reno . Silahkan ambil yang banyak , tapi nanti tolong mainkan alunan pianomu dengan indah " ucap Cesa sambil tersenyum . "Ah , tentu saja , aku tak akan mengecewakan kalian" ucapku .

Dari kejauhan , aku melihat kebahagiaan yang tampkan dari muka mereka berdua .
Namun aku hanya bisa mengamati dari kejauhan. Terlalu sakit untuk berkumpul dengan keduanya seperti biasa. Tapi, Mereka tampak bahagia, memamerkan status baru mereka. Aku keluar dari rumah Cesa , dan menancap gas mobilku menjauhi keramaian .

***

Aku terdiam di pasir pinggir pantai . Kubiarkan kaki basah terkena air laut . Suasana sunyi yang sekarang terjadi , seakan semua hilang . Sepi , sunyi , dan sendiri yang sekarang aku inginkan . Jujur saja , aku sangat ingin menangis mengetahui semua ini , tapi aku tegar . Demi mereka berdua , terutama Cesa .

"Sedang apa kau disini malam - malam begini Reno ?" ucap seseorang dari belakang membuyarkan lamunanku . "Ah , Kak Clares . Tidak ada apa - apa , kakak sendiri kenapa ada disini ?" tanyaku mengalihkan pembicaraan . "Ah tidak , aku hanya khawatir kepadamu . Tiba - tiba saja kau keluar dari rumahku , dan pergi ke tempat seperti ini , dan aku terus membuntutimu dari rumah "ucap Kak Clares , yang jga kakak perempuan tertua Cesa .

Angin malam menyapu ombak , pemandangan yang menakjubkan pada malam hari , pikirku . Paling tidak , semua ini bisa membuat ku sedikit terhibur , di tengah keputusasaan ku ini . "Aku tahu perasaanmu . Aku jga akan mengalami hal yang sama kalau aku berada di posisimu , ya , depresi yang sangat berat . Tapi , sudahlah . Tidak ada gunanya kau begini , yang ada kau akan terus terbawa perasaan sedihmu . Tengoklah ke depan , masih banyak wanita yang menantimu . Cesa bukan wanita satu - satunya di dunia ini" ucap Kak Clares memecah kesunyian malam . "Hmmmm , ya kak . Aku tahu itu kak , entah saja kenapa aku terus murung seperti ini "ucapku .

Aku mengularkan beberapa lembar foto dari dalam jasku . Ku pandangi sebentar semua foto itu . Fotoku dengan Cesa , mulai dari kami masih duduk di bangku SMP , sampai kami beranjak dewasa sekarang . Perlahan , aku mulai menyobek menjadi bagian kecil - kecil semua foto itu , lalu kutaburkan ke laut . Yah , selamat tinggal kenangan . Selamat tinggal Cesa , semoga kau bahagia dengan Dimas !

Air mataku mulai menetes perlahan , membasahi pipiku ini . Aku tahu , semua yang kulakukan ini sia - sia . Hanya menyesali semua yang telah terjadi . Toh , aku jga tak bisa membalikkan waktu . Seperti aku membalikan jam pasir . Andai itu bisa kulakukan pastinya akan aku lakukan hal itu .

Kak Clares menepuk pundakku perlahan , lalu membantuku berdiri . Ya , aku harus kembali ke rumah Cesa , untuk memainkan Piano lagi , untuk Dimas dan Cesa , serta Para Tamu .

***

Perlahan aku membuka pintu mobilku , aku hendak masuk lagi ke dalam Rumah Cesa . Ku lihat dari seberang Dimas melambaikan tangannya kepadaku , menyuruhku cepat - cepat masuk ke dalam rumah . Dia mulai mendekatiku , hendak menyeberang jalan . Ah , aku melihat sebuah mobil Panter dengan kecepatan yang sangat cepat menuju ke arah Dimas . Dimas tidak melihatnya , dan dia hanya berlari kecil ke arahku . Ah , sial !!

"Awas Dimas , minggir !" ucapku sambil berteriak kepada Dimas . Tapi Dimas tidak mengerti apa maksudku , dan aku harus menolongnya . Aku berlari ke arah Dimas , dan mendorong tubuhnya ke belakang hingga terjatuh . Dia terbentur ke rumput jalan , dan jatuh dengan selamat . Tapi ...... aku tidak bisa menyelamatkan diriku sendiri . Tubuhku terbang ke atas , dan jatuh ke aspal . Dan , kepalaku terbentur ke aspal trotoar . Ah , aku lihat banyak darah mengalir dari kepalaku , sangat deras . Kakiku tak bisa digerakkan , dan tanganku terperosok ke dalam lubang jalan .

Samar - samar , aku melihat Dimas menghampiriku . "Maafkan aku Reno , aku ceroboh sekali ! Sebentar yah , aku minta bantuan dulu !" ucap Dimas sambil terengah - engah . Hendak saja dia melangkah pergi , tapi aku menahannya dengan tangan kiriku . "Tidak usah Reno , aku sudah tidak kuat lagi . Percuma saja usahamu mencari bantuan . Aku sebentar lagi mati . Jadi , percuma saja, uhukk .... !!" aku berusaha keras untuk berbicara kepada Dimas , untuk terakhir kalinya . " Dimas , permintaan terakhir dariku . Tolong jaga Cesa sepenuh hatimu , cintai dia setulus hatimu . Jaga dia , jangan pernah kau sakiti dia , uhukkk .... !!" darah keluar dari mulutku . Rasa sakit yang teramat sangat , ah .

Aku melihat Cesa menyeberang jalan menuju ke arah ku dan Dimas . Dia berlari sambil menangis , "Ada apa ini ? Kau , kau kenapa Reno ?" tanya Cesa . "Tidak apa - apa Cesa , tidak usah khawatir . Sebentar lagi aku juga mati . Tolong dengarkan pesan terakhirku . Aku , aku ..... aku mencintaimu Cesa . Hanya itu , aku hanya ingin mengatakan itu "ucapku sambi berusaha keras untuk tersenyum . "Ah ??" Cesa kebingungan .

Ku pegang tangan Cesa perlahan , dan kusatukan dengan tangan Dimas . "Dengar , mungkin ini terakhir kali aku bicara kepada kalian . Yah . Dimas , tolong jaga Nira , dan jangan pernah kau sakiti dia . Aku titip Cesa kepadamu Dimas . Cesa , selamat ya , semoga kau bisa berbahagia dengan Dimas , dan kuharap kau mengerti "ucapku kepada mereka .

"Uhukk , uhukk" darah keluar lagi dari mulutku , dan kali ini sangat banyak . "Reno !!" teriak Dimas dan Cesa bersamaan . Dan untuk terakhir kalinya , aku coba berusaha keras untuk tersenyum terakhir kalinya . Ku pegang erat tangan mereka berdua , dan .... Smuanya menjadi gelap .. !!!!!
 TAMAT
***

TRUE MY LOVE STORY – Stevan Hillardo


TRUE MY LOVE STORY Stevan Hillardo

N
amaku Stevan Hillardo. Aku lahir di Los Angeles. Aku lahir diurus oleh seorang baby sister. Aku anak bungsu dari 4 bersaudara. Aku terlahir di keluarga yang sangat mampu. Tapi kehidupan di keluargaku sangat berantakan . Saat aku mulai besar aku baru menyadari didalam keluargaku hanya ada pertengkaran, perebutan warisan, disco, hura – hura, dan mabuk – mabukan. Entah mengapa tuhan menghendaki aku untuk terlahir kedunia ini di dalam keluarga yang menurutku sangat rusak . Kerjaannya kakak – kakakku hanya mabuk – mabukan, ke diskotik, dll. Dan aku juga sangat suka mabuk – mabukan. Keluargaku memiliki perusahaan besar bernama Hillardo
*****

09 Desember 2005

Kisahku bermula saat datanglah seorang biarawan kerumahku . Dia memberiku sebuah buku .
“Buku apa ini ?” tanyaku .
“Itu adalah buku pedoman kehidupan” ujarnya .
“Untuk apa kau berikan buku ini ?” tanyaku kembali .
“Kehidupan dikeluargamu sangat berantakan , maka pelajarilah buku itu” jawabnya .
“Apakah perlu ?” ujarku .
“Sudahlah , Pelajari saja buku itu, hayati setiap kalimatnya” jawabnya .
“Oke . Akan saya pelajari “ ujarku
Lalu biarawan itu pergi, aku menoleh kepadanya . Dan saat aku melihatnya kembali, dia sudah menghilang . Aku aslinya kaget , Tapi biarlah . Aku menghiraukannya sambil memegang buku yang di berikan .
*****
10 Desember

Lalu aku masuk kamarku dan membuka buku itu . Lalu aku membacanya, Pada suatu halaman aku menemukan sebuah untaian kertas, dan aku membacanya . Di situ tertulis Pikirkan dan Renungkan selama ini apa yang terjadi didalam kehidupan ini , Jangan sampai kau sesat dijalan , karena kebutuhan manusiawi yang tak ada batasannya . Karena sesungguhnya kehidupan ini hanya sementara

*****

16 Desember 2005
Pada suatu hari aku pergi ke suatu mall bersama kakakku yang bernama Stephie (Stevani Hillary) untuk membeli barang. Lalu aku bertabrakan dengan seorang wanita.
“Eh, Kalo jalan pakek mata dong, main tabrak aja” ujarku emosi
“Maaf, aku tidak sengaja” jawabnya dengan lembut
“Lain kali kalo jalan jangan maen tabrak aja” balasku
“Iya saya minta maaf” balasnya
Lalu aku pergi meninggalkannya . Itu bukan lah pertemuanku terakhir dengannya .
*****

17 Desember 2005
Sesampai dirumah aku segera merebahkan tubuhku ke karus. Lalu aku memikirkan wanita tadi. Batinku “Dia cantik sekali, lemah lembut, baik, dan membalas ucapan ku dengan sabar”. Lalu aku membayangkan wajah nya, pikirku “kapan aku bisa bertemu dengannya”.
Lalu lamunanku segera usai saat kakak tertuaku masuk ke kamarku dan menepuk pundakku.
“Hayoo, kamu melamun apa?” ujarnya
“ohh, enggak koq kak” balasku
“udahlah, gak usah bohong deh, Van” katanya
“hehehe” tawaku
“pasti kamu sedang melamunkan wanita itu ya? Yang menabrak mu wktu di mall?” tanyanya
“ah kakak, ada ada aja!” balasku
“jujur aja deh, iyakan??” tanyanya kembali
“iya kakak ku yang cantikk, Eh kak, tapi memang wanita itu bikin aku jadi melamunin dia aja” ujarku
“ciee, kamu itu , masih kecill mikirin cwek aja” katanya
“apaan sih kak?? Gpp kali,, lagian aku kan udh umur 16” jawabku
“oh iya,, kakak lupa adek kecil” jwb nya
“ah kaka, dari dulu selalu anggap aku anak kecil terus, kapan aku bisa gedenya kak ??” tanya ku
“iya iya !!”
Lalu kak Stephie pergi meninggalkan kamar ku .
*****

20 Desember 2005
Di suatu malam, aku memimpikan wanita itu . aku berpimpi di suatu hari aku menjadi sahabatnya . Saat itu aku pergi dengannya ke sebuah taman dengannya, kami berbincang – bincang dengan serius , saat lagi asik asiknya ..........
*Kriiinnnggg .... Krrrinnnggg* suara jam wekerku
Ahh , mimpii ku ...
Aku bangun dan aku segera bersiap untuk bergi ke toko bakery bersama kak Stephie lagi .
Sesampai di toko itu. Aku melihat wanita yang menabrak aku, aku menyapanya dan mengajaknya berbincang.
“Hai” sapaku
“Hai juga” balasnya
“Eh maafkan aku ya yang waktu kamu menabrak aku, aku membentak mu” ujarku
“ohh iya, tidak apa, itu aku yang salah” jawabnya
“Oh iya, nama mu siapa?” tanyaku
“Aku Gabriel, Gabrielle Costanjo” jawabnya
“Oh namamu Gabriel, namaku Stevan, Stevan Hillardo” ujarku
“Okay Stev, Senang berkenalan denganmu” ujarnya
“Aku juga sangat senang berkenalan denganmu Gabriel, oh iya boleh aku minta nomer telpon mu?” tanyaku
“oh boleh, nomer telpon ku 08385*******” jawabnya
“oke trimakasih, nanti akan saya sms” balasku
Saat aku sedang serius berbincang dengannya, eh kakak ku mengajak pulang.
Batinku *yahhh* ...
Dalam perjalannan pulang, kak stephie bertanya pada ku
“hayyooo, tadi kamu berbincang apa dengannya”ujarnya
“tidak koq kak, aku hanya minta maaf dan minta nomernya” jwb ku
“ohh, siapa namanya?” balasnya
“namanya Gabriel, Gabrielle Costanjo” jawabku
“waw, nama yang cantik, untuk seorang wanita yang cantik” balasnya
“Ah kakak bisa ajah”  jawabku
*****
01 Januari 2006
Tepat pada tahun baru, aku berdo’a kepada tuham, agar kehidupan keluarga ku tidak seperti ini terus,, Dan seiring berjalannya waktu, kehidupan dikeluargaku semakin membaik. Akupun selalu bersyukur kepada tuhan .
*****

04 Januari 2006
Dan pada suatu hari papa dan mamaku pergi untuk menjalankan bisnis ke Japan. Kakak-kakakku juga pergi berlibur ke Bahamas . Akupun memilih tinggal di rumah bersama Kak Stephie, Pembantu, dan supir. Rumahku yang besar rasanya sangat rasanya sungguh sepi dan sunyi, bagaikan rumah berhantu. Batinku “ya tuhan, ini rumah atau kuburan” .
*****

11 Januari 2006
Di saat papa dan mama ku akan segera pulang, akupun dan kak Stephie membereskan rumah. Lalu setelah lama membersihkan rumah. Akupun segera istirahat. Lalu di sore harinya aku dan kak Stephie pergi ke mall. Kami belanja sesuatu lalu segera pulang, saat pulang aku berpapasan dengan Gabriel dan aku hanya menyapanya .
Sesampai dirumah aku segera pergi kebandara. Sesampai di bandara. Aku melihat di papan penerbangan, telah terjadi kecelakaan penerbangan pada pesawat orang tuaku. Saat itu aku segera menanyakan kepada penjaga penerbangan, apakah ada korban selamatnya.
“permisi pak, apakah di penerbangan itu masih banyak yang selamat” tanyaku dengan takut dan gelisah
“saya tidak tahu mas, silahkan lihat saja di papan itu” jawabnya
Aku pun segera melihat papannya, dan aku hanya melihat nama papaku dan tidak ada nama mamaku. Aku pun jadi bingung, lalu aku menyuruh kak Stephie segera menelpon ayah. HandPhone papaku selalu pending.
Yasudahlah,, aku dan kakak segera pulang, karena sudah terlalu larut.
*****

29 Januari 2006
Dipagi harinya aku segera kebandara karena papaku sms “stev jemput papa di bandara” . Sesampainya aku dibandara aku melihat papaku dengan wajah yang kusam, seperti habis menangis. Lalu aku segera mendekat ke papa, lalu aku bicara dengan papa
“Papa” Ujarku
“Stev !!” Ujarnya
“Pa, mana mama?” Ujarku
“Mama mu ituh.....” Ujarnya
“mana mama, Pa??” Ujarku
“Mama mu meninggal dalam kecelakaan kemarin” Ujarnya
“ha?? Mama meninggal??” Ujarku
“Iya” Ujarnya
*aku menangis
“Ya sudah pa, ayo kita segera pulang” Ujarku

*Sesampai dirumah
Rumahku sangat di penuhi dengan isak tangis kehilangan mama
*****

05 Februari 2006
Seminggu setelah kepergian mama, kami mulai bisa mengikhlaskannya .

Setelah Sebulan kepergian mama, papa sedang dekat dengan seorang wanita . Wanita itu cantik . Seumuran mama .
*****

08 Februari
Semakin hari, aku semakin sering bertemu dengan Gabriel. Kami pun semakin sering sms dan semakin akrab. Gabriel sering datang kerumah. Gabriel mulai akrab dengan kakak-kakakku.
Aku dengan Gabriel semakin saling mengenal .
*****

10 Februari 2006
Semakin lama, sepertinya aku mulai menyukai Gabriel. Awalannya aku hanya menghiraukan perasaanku, Karna mungkin perasaanku hanya sesaat saja. Tapi aku salah, Perasaanku semakin hari semakin menyayanginya. Aku selalu mengingatnya.
*****

20 Februari 2006
Pada suatu hari aku mengajak Gabriel untuk menonton bioskop ..
"Kau ingin menonton apa Gab ?" tanyaku pada Gabriel setiba di depan kasir bioskop
"Hmmmm , sebenarnya aku ingin menonton Harry Potter 6 , kau setuju tidak Stev?" tanya Gabriel padaku .
"Ya , terserah saja . Sepertinya juga film itu cukup menarik" balasku .
*Setelah menunggu sekitar setenggah jam*
Kami segera memasuki ruang bioskop ...
Di dalam ruang aku gelisah.. ingin ku genggam tangan gabriel... tapi ku ragu dan takut ,, akhirnya ku kumpulkan keberanianku,, lalu aku memegang tngannya perlahan, dia tidak beraksi apapun, lalu ku genggam, dan dia melepaskan tangannya,, aku takut dia marah...
*Film sudah habis*
Keluar dari bioskop , Gabriel meminta mencari makan . Akhirnya kami memutuskan untuk makan di Foodcourt. Gabriel memesan makanan, dan aku pun duduk memandanginya,, dia hanya tersenyum kepadaku.
*Sesudah Makan*
Aku mengajak Gabriel membeli kaset DVD. Aku memilih-milih kaset, begitu juga dengan Gabriel, lalu aku membeli kaset DVD film, Dan aku segera ke kasir.
“Gab, kamu mau beli kaset apa?” Ujarku
“Tidak, aku tidak beli, aku hanya melihat-lihat saja, kamu?” Ujarnya
“Aku beli film ini” Ujarku
“ohhh” Ujarnya
“iya tuan putri” Ujarku
“haha, ada ada ajah kmu” Ujarnya
*Segera Pulang*
Dalam perjalanan pulang aku bertanya pada gabriel...
“Gab, maukah kau ku antar pulang?” Ujarku
“Terserah ajah, Stevv” Ujarnya
“Mau ya??” Ujarku
“Ya udah lah, aku mau !” Ujarnya
“Okeh” Ujarku
*sesampai rumah Gabriel*
“Sudah sampai disini ajah ya, Stev” Ujarnya
“Iya deh, Gab" Ujarku
“Ok See You Tommorow” Ujarnya
“See You Tommorow too”  Ujarku
*Sesampai dirumahku*
Aku segera merebahkan tubuhku dikasur. Hmm, sungguh har yang menyenangkan, bisa jalan sama Gabriell.... Fiuhhh... Capekk.. aku langsung tertidur pulas.. hehehe

*****

25 Maret 2006
Harii-harii ku semakin menyenangkan ,, karena Gabriell semakin sering main kerumahku ... Aku sering ber-sms dengannya .. tak jarang kami jalan-jalan ke mall bareng,, banyak orang yang mengira kamu berpacaran. Padahal tidak,, haha ....
*****

1 April 2006
Aku sms-an dengan Gabrielle, kata Gabrielle di tidak mempunyai papa, heemmm,, sepertinya aku dengan gabriel senasib.. haha. Hari ku. Ku lalui dengan semakin dekatnya aku dengan Gabriel,, Sepertinya benar, bahwa perasaanku kepada gabrielle bukan hanya untuk sesaat, melainkan sepertinya aku benar’’ jatuh cinta kepada gabriel....
*****

5 April 2006
Hari demi hari, aku lalui. Aku merasa sepertinya kepergian mama membuatku lebih dekat dengan Gabriell. Aku merasa Gabriell seperti mama, mulai dari sifatnya, makanan kesukaannya, hobinya. Gabrielle sungguh mirip dengan mamaku. Orang rumahku pun merasa sama sepertiku.
*****

Suatu saat,, papa ingin memperkenalkan calon istrinya. Papa berkata bahwa calon istrinya bernama Cecyo Costanjo, Dalam hati ku “ha?? Kok namanya mirip kayak nama warganya Gabriel?? Jangan jangan ??? Gabriell anaknya lagie???” saat itupunn hati ku terasa sangat remuk ... Batin ku lagi “ha?? Jika papa menikah sama mamanya gabriell? Brti aku sama gabriel jd sodara dunk??”.. =((
Tapi aku hanya menghiraukannya, mungkin itu hanya kesamaan nama saja dan kebetulan saja ....
*****

15 April 2006
Text Box: From : Gabrielle
Eh, kamu lagie aph?? Aku mau datang ke acara makan malam nie.. kt.x mamaku sih di restoran Italia,, mau bertemu calon suami mamaku ..


Pada hari ini ayah ingin mengenalkan wanita yang akan menjadi istrinya. Ayah mengadakan makan malam pada suatu restoran Italia. Aku sedang memakai baju, sambil ber-sms dengan Gabriel .. Gabriel sms aku




Text Box: From : Stevan
Aku juga mau pergi ke restoran nie... hmm,, jgn jgn ??!!


Batinku?? “Ha?? Masa papaku mau bertemu dengan mamanya gabriell??” Jgn’’ ??? ahhh !!!



Sms ku tidak d blz nya...
*Selesai berpakaian*
Aku segera naik mobil dan berangkat ke restoran italia itu... dalam perjalannan aku berbincang bincang dengan kak Stephie,,
“Kak step,, Bagaimana kalau Papa menikah dengan Mamanya Gabrielle??”
“loh?? Kok bisa, Van?”
“Masalahnya kak, nama warganya Gabriell sama kayak namanya calon istri papa kak??”
“Lah?? Itu mungkin hanya kebetulaan ajah dek”
“lah ka?? Masalahnya skrg gabriell juga mau ke restoran??”
“restoran mana dulu??”
“Gag taw??”
“jiahhh, dasar km Stevv,, g pinter pinter”
“aku pinter koq,, maen piano bisa”
“iya iya Stevv”
*Sesampai di Restoran*
Aku se keluarga segera ke meja yang sudah di Pesan atas nama Stevano Hillardo(nama papa). Kami duduk di meja itu yang sudah di pesan oleh papa, papa berpakainan dengan setelan jas yang rapi.
Tak lama kemudian kami menunggu keluarga dari calon istri papa, dia pun datang. Dan saat itu aku sangat sangat terkejut??? Trnyata dugaan ku selama ini?? BENARR !!!!! Dan aku melihat Gabrielle menggunakan sebuah gaun berwarna merah, yng sangat membuat dirinya terlihat cantik.
Selama makan aku tak bisa berkata apapun, begitu juga si Gabrielle. Hati ku serasa remuk,, se hancur-hancurnya persaanku yang selama ini kupendam...
**Sudah Selesai Makan**
Kami pun segera pulang, aku semobil bersama Gabrielle, aku tak bisa berkutik dengannya, aku hanya memandanginnya . Gabrielle pun terlihat sedikit murung. Aku tak tahu, apakah yang dirasakan gabrielle sama sepertiku?? Ku harap sama, tapi aku tidak mau menghancurkan acara papaku dan mama Gabrielle.
Sesampai di rumah gabrielle, dia segera turun dan senyum kepadaku. Dia bilang “terimakasih atas tumpangannya Stev”, “sama sama Gabrielle.” Ujarku
*****

06 Juni 2006 Jam 06:06
Pesta pernikahan malam ini di Rumah Keluarga Hillardo sangat ramai dan Meriah. Aku di tugasi ayah sebagai pemain piano. Banyak hadirin yang diundang hadir beserta dengan keluarganya . Semua orang sedang bersuka cita, terkecuali diriku dan Gabrielle... aku tak sanggup.. tp aku harus melakukannya..
Suasana begitu meriah, lalu aku keluar ke teras, dan aku melihat Gabrielle duduk disana sendiri, dan terlihat sedang bersedih. Aku menhampirinya.
“Gab, kamu tak apa kan??”
“Iya aku tak apa”
“Kamu terlihat sedih ??”
“hemm?? Ehh enggak kok Stev”
“bener??”
“Iya Stevv”
“sekarang kita menjadi saudara”
“iya kita saudara”
“eh ikut aku yuk”
“gak deh”
“yaudah ga jadi”
*Pesta Pernikahan Papa sudah usai”
*****

Keesokannya
Papa dan mama Gabrielle merencanakan untuk Honey Moon . Dan berangkat besok. Dan aku di tugasi papa untuk menjalankan perusahaannya selama papa pergi Honney Moon.
*****


Keesokannya
Papa berangkat.
“Stev, selama papa honey moon km yang menjalankann perusahaannya”
“Baik pa, Stev akan jalanin perusahaannya sebaik mungkin”
“Okey Stevv, Papa percaya kamu nak”
“Baik Pa, Stev bisa jalankan amanah Papa kok”
*****

Hari-hari kujalani tanpa ada papa dirumah, dan kerjaannya kakak-kakak ku hanya lah mabuk-mabukan...
Sungguh menyedihkan... sehari-harii aku sering mengajak gabrielle ke kantor, gabrielle terpesona dengan kantor papa ku yang sungguh megah dan mewah ini.
*****

Setiap malam aku hanya bisa merenungkan hal yang sudah terjadi, aku selalu berpikir agar waktu bisa di putar, layaknya jam pasir yang ada di meja kantor papa.
Sungguh sebenarnya aku sayang kepada Gabrielle...

*****

Hari menunggu kedatangan papa, aku dan gabrielle pergi ke mall. Lalu kami pullang, aku menunggu papa di teras bersama Gabrielle dan Kak Stephie. Kami ber-3 bercakap-cakap.
Tak lama, hp Gabrielle bergetar, *felling ku tak enak*, Gabrielle menjawab telponnya
“hallo, ada apa ma??”
“Papa Stevan kecelakaan mobil sama mama, mama tidak apa-apa, tp papa stevan meninggal”
“ha Meninggal ma???”*gabrieelle menetes kan air mata
“ia”
*teleponnya puun di tutup
Lalu gabrielle bilang bhwa papa meninggal aku pun menangis..
Dan sekeluarga menangiss
*****

Di Pemakaman Papa
Aku,Gabrielle,Mama,Kak Stephie,dll. Yang hadir di pemakaman papa menangis. Sungguh merasa kehilangan papa. Aku tak sanggup lagi menahan air mataku. Hingga semua orang sudah meninggalkan pemakaman. Hanya tersisa aku,mama,Gabrielle. Lalu mama bilang kepadaku.
“Stevan, mama tau dari dulu kamu menyukai Gabrielle, tapi kamu telat mengungkapkannya karena kamu masih takut, dan akhirnya kamu menyesal karena mama menikah dengan papamu”
“Iya ma, stev aslinya sayang gabrielle tapi stevv ragu”
“sekarang minta maaf lah ke papamu, dan ungkapkan perasaan mu ke gabrielle”
“Pa, Stevan minta maaf, selama ini stevan aslinya tidak suka klo papa menikah dengan mama gabrielle , karena stev mencintai Gabrielle pa”
“Gtu lebih baik stevv”
***Aku menamhiss sesaat***
“Gabriel, Aku aslinya mencintaimu, tapi saat aku mau mengungkapkannya aku di dahului oleh papaku yang malamar mamamu, aku sungguh syang km saat kita pertama bertemu” Emosiku
“Aku juga stev, mungkin smua ini sudah jadi takdir kita, kita trima ajah”
“Aku ga bisa Gabriel.. Aku di tinggal oleh mama papa ku !!! Aku syank km,, !!!
“Stevv udh trima ajh !!”
“Tidakk !!!!!!!! aku ga bisa trimaa ini, tuhan g adil sama aku !!!!!” Bentakku
*aku langsung memeluk gabrielle...
Aku menangiss. Aku pun segera pulang dari pemakaman, sungguh sepi rumah ku tanpa ada mama papa.. “Ma,Pa aku sayank kaliand, kenapakaliand tinggalin aku ma? Pa? Di saat aku butuh kaliand? Pa? Kenapa papa sama mama menikah?? Papa g bisa tau prsaan ku ke Gabrielle?? Papa Tega.. !!!”
Batinku.. !! smua sudah berakhir. !!
 Aku n Gabriell pun bersaudara.... =( aku hanya bisa mencintai gabrielle Sebagai saudara.... J
TAMAT
Sory gan klo crtanya rada ga nyambung ,, mohon komentar gan !!: